Friday, March 15, 2013

MAKALAH BIMBINGAN DAN KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling  di sekolah ada beberapa prinsip yang perlu kita perhatikan. Prinsip-prinsip tersebut menjadi pedoman dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Maknanya apabila bimbingan dan konseling dilaksanakan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut berarti bukan merupakan bimbingan dan konseling dalam arti yang sebenarnya.[1]
Bimbingan dan konseling mrupakan layanan kemanusiaan. Pelaksanaannya selain harus berlandaskan pada prinsip-prinsip dan asas-asas tertentu juga harus mengacu pada kepada landasan bimbingan dan konseling itu sendiri.[2]
B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat kita rumuskan masalahnya sebagai berikut:
1.      Apa saja prinsip-prinsip bimbingan dan konseling?
2.      Apa saja landasan bimbingan dan konseling?
C.     Tujuan
            Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip bimbingan dan konseling
2.      Untuk mengetahui landasan-landasan bimbingan dan konseling.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling.
            Prinsip berasal dari kata “prinsipra” yang artinya pemulaan dengan cara tertentu yang melahirkan  hal-hal lain, yang keberadaannya tergantung pada pemula itu. Prinsip ini merupakan hasil perpaduan antara kajian teoritis dan teori lapangan yang terarah dan dipergunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan.
            Prinsip bimbingan dan konseling menguraikan pokok-pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landasan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.[3]
            Arifin dan Eti Katika Wati dalam Tohirin dalam bukunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah menjabarkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
1.      Prinsip-prinsip Umum
a.       Bimbingan harus berpusat pada individu yang dibimbingnya.
b.   Bimbingan di arahkan kepada memberikan bantuan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan mampu menghadapi kesulita-kesulitan dalam kehidupannya.
c.       Pemberian bantuan sesuai dengan kebutuhan individu yang dibimbing.
d.      Bimbingan berkenaan dengan sikap dan tingkah laku induvidu.
e.    Pelaksanaan bimbingan dan konseling dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan individu yan dibimbing.
f.       Uapaya pemberian bimbingan dan konseling harus fleksibel.
g.    Progaram bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan di sekolah atau madrasah yang bersangkutan.
h.      Implementasi bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh orang yang mememiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling.
i.        Untuk mengetahui hasil-hasil yang diperoleh dari upaya pelayanan bimbingan dan konseling, harus diadakan penilaian dan evaluasi secara teratur dan berkesinambungan.
2.      Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu siswa
a.      Pelayanan bimbingan dan konseling harus diberikan kepada seluruh siswa.
b.    Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu atau siswa.
c.      Program pemberian bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa,
d.    Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah maupun madrasah harus  memenuhi kebutuhan siswa yang bersangkutan beragam dan luas
e.      Keputusan akhir dalam bimbingan dan konseling dibentuk oleh siswa yang sendiri.
f.     Individu atau siswa yang telah memperoleh bimbingan, harus secara beransur-ansur menolong dirinya.
3.      Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan pembimbing
       Adapun perinsip-prinsip khusus bimbingan dan konseling yang berhubugan dengan pembimbing dan konseling adalah:
a.   Pembimbing atau konselor  harus melakukan tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
b.  Pembimbing atau konselor  di sekolah atau madrasah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya.
c.  Sebagai tuntutan profesi pembimbing atau konselor harus senantiasa berusaha mengembngkan diri dan melalui berbaga kegiatan.
d.    Pembimbing atau konselor harus hendaknya selalu menggunakan bergabagi informasi yang tersedia tentang individu atau siswa.
e.      Pembimbing atau konselor harus menghormati menjaga informasi tentang individu atau siswa yang dibimbingnya.
f.   Pembimbing atau konselor dalam melaksanakan tugas hendaknya mempergunakan berbagai metode dan teknik.
4.     Prinsip Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Pelayanan Bimbingan dan Konseling
a.      Bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
b.    Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus ada dikartu pribadi bagi setiap setiap siswa.
c.    Program bimbingan dan konseling harus disusun dengan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan madrasah yang bersangkutan.
d.      Harus ada pembagian waktu antara pembimbing.
e.      Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu dan kelompok sesuai dengan masalah yang dipecahkan.
f.       Dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling sekolah dan madrasah harus berkerjasama dari berbagai pihak.
g.      Kepala sekolah merupakan penanggung jawab utama dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah
B.     Landasan Bimbingan dan Konseling
            Landasan bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya bagi konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.
            Secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari bimbingan dan konseling yaitu:
1.      Landasan Filosofis
      Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, estis maupun estis.
2.      Landasan psikologis
      Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien).
3.      Landasan sosial-budaya
      Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang memperngaruhi terhadap perilaku individu.
4.      Landasan pengetahuan dan teknologi
      Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasar-dasar kilmuan, baik menyangkut teori maupun prakteknya. Pengetahuan bimbingan dan konseling disususn secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode seperti: pengamatan, wawancara, analisis dokumen, prosedur tes, inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian, buku teks dan tulisan ilmiah lannya.[4]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            Arifin dan Eti Katika Wati dalam Tohirin dalam bukunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah menjabarkan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
Perinsip secara umum
1.      Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu siswa
2.      Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan pembimbing
3.      Prinsip Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Pelayanan
                 Terdapat empat aspek yang mendasari bimbingan dan konseling diantaranya yaitu: landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosial-budaya dan landasan IMTEK.
B.     Saran-saran
                 Setelah penulis menyelesaikan penulisan makalah ini maka penulis menyarankan guru khususnya para konselor agar lebih memahami prinsip-peinsip dan landasan dalam bimbingan dan konseling.
                 Demi perkembangan penulisan makalah ini ke depannya maka penulis sangat mengharapkan kritik dari kawan-kawan pembaca tentunya kritk dan saran yang membangun demi perkembangan dalam penulisan makalah ke depannya.


[1] Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (Pekanbaru, Raja Grafindo Persada, 2007), h. 69
[2] Ibid., h.95
[3] Anas Salahuddin, Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, Pustaka Setia, 2009), h. 43
[4] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/25/landasan -bimbingan-dan-konseling/

Tuesday, October 30, 2012

KESULITAN BELAJAR


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbaikan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. Dalamkeadaan dimana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan kesulitan belajar.

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor no integensi. “Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar”.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian kesulitan belajar ?
2. Apa saja faktor-faktor penyebab kesulitan belajar ?
3. Bagaimanakah cara mengatasi kesulitan belajar ?
4. Apa peran guru dalam belajar ?

C. Tujuan

Adapun tujuan tersusunnya makalah ini antara lain :
1. Untuk mengetahui pengertian kesulitan dalam belajar
2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
3. Bagaimana cara mengatasi kesulitan belajar
4. Untuk mengetahui peranan guru dalam belajar

BAB II
PEMBAHASAN

MASALAH KESULITAN BELAJAR

A. Pengetian Kesulitan Belajar

Aktivitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi. Tetapi sulit juga untuk mengadakan konsentrasi. Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar.
Setiap individu memang tidak ada yang sama perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar dikalangan anak didik. “Dalam keadaan dimana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan “Kesulitan belajar”.
Oleh karena itu dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada setiap anak didik, maka para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungandengan kesulitan belajar.[1]
Macam-macam kesulit belajar in dapat dikelompokkan menjadi empat macam:

1. Dilihat dari jenis kesulitan belajar
- Ada yang berat
- Ada yang seeding

2. Dilihat dari bidang studi yang dipelajari
- Ada yang sebagian bidang studi
- Ada yang keseluruhan bidang studi

3. Dilihat dari sifat kesulitannya
- Ada yang sifatnya permanen
- Ada yang sifatnya hanya sementara

4. Dilihat dari segi faktor penyebabnya
- Ada yang karena faktor intelegensi
- Ada yang karena faktor non intelegensi.[2]

B. Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar

Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu :
1. Faktor Intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri) yang meliputi :
a. Faktor fisiologis
b. Faktor psikologi
2. Faktor Ekstern (faktor dari luar manusia) meliputi :
a. Faktor-faktor non social
b. Faktor-faktor social.[3]

Dalam kamus pendidikan, Smith menambahkan faktor metode mengajar dan belajar, masalah social dan emosional, intelektual dan mental :

1. Faktor Intern
a. Sebab yang bersifat fisik
1) Karena sakit, seorang yangsakit akan mengalami kelemahan fisiknya, sehingga saraf sensoris dan motorisnya lemah akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak.
2) Karena kurang sehat. Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah capek, mengantuk pusing dan lain-lain
3) Sebab kaerna cacat tubuh
Cacat tubuh dibedakan atas :
a. Cacat tubuh yang ringan seperti kurag pendengaran, kurang pengliatan, gangguan psikomotor
b. Cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, hilang tangan dan kakinya
Bagi golongan serius, maka harus masuk pendidikan khusus seperti SLB, Bisu Tuli, TPAC-SROC. Bagi golongan yang ringan, masih banyak mengikuti pendidikan umum, asal guru memperhatikan dan menempuh placement yang tepat.
b. Sebab-sebab kesulitan belajar karena Rohani
Belajar memerlukan kesiapan rohani, ketenangan dengan baik, jika hal-hal diatas ada pada diri anak maka belajar sulit dapat masuk.
Apabila dirinci faktor rohani itu meliputi antara lain :
1) Intelegensi
Anak yang IQ nya tinggi dapat menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi. Anak yang normal (90-110) dapat menamatkan SD tepat pada waktunya. Mereka yang memiliki IQ 110-140 dapat digolongkan cerdas, 140 keatas digolongkan jenius.
Golongan debil walaupun umurnya telah 25 tahun, kecerdasan mereka setingkat dengan anak normal umur 12 tahun
Golongan embisil hanya mampu mencapai tingkat anak normal 7 tahun.
Golongan ediot kecakapannya menyamai anak normal umur 3 tahun.
2) Bakat
Bakat adalah potensi/kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang yang berbakat musik mungkin dibidang lain ketinggalan
3) Minat
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar
4) Motivasi
Motivasi sebagai faktor inner (batin) berfungsi menimbulkan, mendasari, mengarahkan perbedaan belajar.
5) Faktor kesehatan mental
Faktor kesehatan mental dan ketenangan emosi akan menimbulkan hasil belajar yang baik
2. Faktor Orang Tua
Orang tua yang tidak/kurang memperhatikan pendidikan anaknya mungkin acuh tak acuh, tidak mamperhatikan kemajuan belajar anak akan menjadi penyebab kesulitan belajarnya yang termasuk faktor ini yaitu : cara mendidik anak, hubungan orang tua dengan anak, bimbingan dari orang tua suasana rumah / keluarga dan ekonomi keluarga.
3. Faktor Sekolah
Yang dimaksud sekolah antara lain adalah :
1) Guru
a) Guru yang tidak kualified
b) Hubungan guru dengan murid kurang baik
c) Guru-guru menuntut standard pelajaran diatas kemampuan anak
d) Guru yang tidak memiliki kecakapan dalam usaha diagnosis kesulitan belajar
e) Metode mengajar guru
2) Faktor Alat
Alat pelajaran yang kurang lengkat membuat penyajian pelajaran kurang baik
3) Kondisi Gedung
Ruangan harus memenuhi syarat kesehatan
4) Kurikulum
Kurikulum yang terlalu tinggi dan adanya pendekatan materi
5) Waktu sekolah dan disiplin kurang.[4]

c. Faktor massa media dan lingkungan sosial
1) Faktor massa media meliputi : bioskop, surat kabar, majalah, buku-buku komik yang ada disekeliling kita
2) Lingkungan social
a. Teman bergaul
b. Lingkungan tetangga
c. Aktivitas dalam masyarakat.
Dari varian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab kesulitan belajar itu karena :
1. Sebab-sebab individual artinya tidak ada orang yang mengalami kesulitan belajar sama persis penyebabnya walaupun jenis kesulitannya sama
2. Sebab-sebab yang kompleks, artinya seorang mengalami kesulitan belajar karena sebabnya bermacam-macam
Beberapa gejala sebagai petanda adanya kesulitan belajar
1. Menunjukkan prestasi yang rendah
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar
4. Menunjukkan sikap acuh tak acuh, berpura-pura, dusta dll.
5. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan.[5]

C. Usaha Mengatasi Kesulian Belajar

Mengatasi kesulitan belajar, tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor kesulitan belajar sebagai mana diuraikan di atas. Oleh karena itu mencari sumber penyebab utama dan sumber-sumber penyebab penyerta lainnya adalah menjadi mutlak adanya dalam rangka mengatasi kesulitan belajar.
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dapat dilakukan melalui enam tahap yaitu :
1. Pengumpulan data
Untuk menemukan sumber penyebab kesulitan belajar, diperlukan banyak informasi. Untuk memperoleh informasi tersebut, maka perlu diadakan suatu pengamatan langsung yangdisebut, maka perlu diadakan suatu pengamatan langsung yang disebut dengan pengumpulan data dapat dipergunakan berbagai metode, diantaranya adalah :
a. Observasi
b. Kunjungan rumah
c. Case study
d. Cas story
e. Daftar pribadi
f. Meneliti pekerjaan anak
g. Tugas kelompok
h. Melaksanakan tes
2. Pengolahan data
Data yang telah terkumpul dari kegiatan tahap pertama bersebut tidak ada artinya jika tidak diadakan pengolahan secara ceremat. Dalam pengolahan data, langkah yang dapat ditempuh antara lain adalah :
a. Identifikasi kasus
b. Membandingkan antar kasus
c. Membandingkan dengan hasil tes
d. Menarik kesimpulan
3. Diagnosis
Diagnosis adalah keputusan (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Dalam rangka diagnosa ini biasanya diperlukan berbagai bantuan tenaga ahli, misalnya : Doktor, Psikolog, Psikiater, Sosial Worker, Orto Pedagak, Guru Kelas, Orang Tua anak dan sebagainya.

4. Treatment (perlakuan)
Perlakuan di sini maksudnya adalah pemberian bantuan kepada anak yang bersangkutan. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah :
- Melalui bimbingan belajar kelompok
- Melalui bimbingan belajar individual
- Melalui pengajaran remedial dalam berupa bidang studi tertentu
- Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologi
- Melalui bimbingan orang tua, dan pengatasan kasus sampingan yang mungkin ada
5. Evaluasi
Evaluasi di sini dimaksudkan untuk mengetahui apakah treatment yang telah diberikan di atas berhasil dengan baik, artinya ada kemajuan atau bahkan gagal sama sekali. Alat yang digunakan untuk evaluasi ini dapat berupa tes prestasi belajar (achievement test).
Untuk menagdakan pengecekan kembali atas hasil treatmen yang kurang berhasil maka secara teoritis langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sbb :
a. Re ceting data
b. Re diagnosa
c. Re prognosa
d. Re treatment dan
e. Re evaluasi
1. Cepat dalam belajar
Anak yang tergolong cepat dalam belajar, pada umumnya dapat menyelesaikan kegiatan belajar dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan.
2. Lambat dalam belajar
Sebaliknya dari anak yang tergolong cepat, anak yang tergolong lambat lebih banyak membutuhkan waktu yang lebih lama dari waktu yang diperkirakan untuk anak-anak normal.
3. Anak kreatif
Anak kreatif ini umumnya anak dari golongan cepat, tapi banyak pula dari golongan normal (rata-rata). Anak golongan ini menunjukkan kreativitas dalam kegiatan –kegiatan tertentu.[6]

D. Peranan Guru Dalam Proses Pendidikan
Oleh karena peserta didik dipandang sebagai organisasi (subjek) yang memiliki kemampuan untuk berpikir, mampu menjelajahi kebutuhan masalah dan minatnya sendiri maka guru seharusnya berperan sebagai :
1. Penyedia berbagai pengalaman yang akan memunculkan motivasi belajar.
2. Pemandu (aguide) bagi murid-murid dalam merumuskan masalah, kegiatan-kegiatan penyelesaian masalah dan proyek-proye mereka.
3. Merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas untuk digyunakan dalam memecah masalah
4. Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah
5. Bersama-sama anggota kelas mengevaluasi mengenai apa yang telah di pelajari.
Guru yang dapat berperan sebagai pembimbing yang efektif sbb :
1. Mengajar bidang studi, yaitu guru yang :
a. Dapat menimbulkan minat dan semangat murid dalambelajar
b. Memiliki kecakapan untuk memimpin
c. Dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pekerjaan-pekerjaan praktis
2. Hubungan murid dengan guru yaitu guru yang :
a. Di cari murid-murid untuk memperoleh nasehat dan banatuan
b. Mencari kontak dengan murid di luar kelas
c. Memimpin kegiatan kelompok
d. Memiliki minat dalam pelayanan social
e. Membuat kontak dengan orang tua murid
3. Hubungan guru dnegan guru yaitu guru yang :
a. Menunjukkan kecakapan bekerjasama dengan guru lain
b. Tidak menimbulkan pertentangan
c. Menunjukkan kecakapan untuk berdirin sendiri
d. Menunjukkan kepemimpinan yang baik dan tidak mementingkan diri sendiri.
4. Pencatatan dan penelitian yaitu guru yang :
a. Mempunyai sikap ilmiah objektif
b. Lebih suka mengukur dan tidak menebak
c. Berminat dalam masalah-masalah penelitgian
d. Efisien dalam pekerjaan tulis menulis
5. Sikap professional, yaitu guru yang :
a. Suka rela untuk melakukan pekerjaan ekstra
b. Rela menunjukkan dapat menyesuaikan diri dan sabar
c. Memiliki sikap yang konstruktif dan rasa tanggung jawab
d. Berkemauan untuk melatih diri.[7]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Setiap individu tidak ada yang sama perbedaan individual ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. “ Dalam keadaan dimana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan “kesulitan belajar”
2. Faktor penyebab kesulitan belajar diantaranya :
a. Faktor intern (faktor dari dalam diri manusia itu sendiri)
b. Faktgor ekstern (faktor dari luar manusia)
3. Adapun usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajar
a. Pengumpulan data
b. Pengolahan data
c. Diagnose
d. Prognosa
e. Treatment / perlakuan
f. Evaluasi
4. Peranan guru dalam proses belajar adalah mendorong, membimbing, danmemberi fasilitas belajar bagi murid-murid untuk mencapai tujuan

B. Saran 

Setelah penulis menyelesaikan makalah ini maka penulis menyarankan kepada para pendidik agar lebih memperhatikan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar bagi peserta didik. Sehingga tecapai tujuan belajar.


DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 1991, Psikologi Belajar, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Made Alit Mariana, 2003, Pembelajaran Remedial, Jakarta : Depdikbud.









Friday, April 13, 2012

SEJARAH MUNCULNYA ILMU KALAM DAN TASAWUF


BAB I
PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang Masalah
Sejak dulu hingga sekarang, pembahasan tentang asal kata sufi belum pernah mencapai kata sepakat. Para ahli berbeda pendapat tentang asal kata sufi ini.
DR.Zaki Mubarok dalam kitabnya “ At-Tasawuf Islami Fil Adaki Wal Akhlaq” (Mesir, 1937) menerangkan panjang lebar sejarah dan asal perkataan ini yang tentunya tidak semua di buat dalam tulisan ini.
Dari berbagai pendapat yang muncul di berbagai buku mengenai tasawuf ini, harapan penulis semoga kita mengambil jalan tengahnya. Karena kebenarannya yang haqiqi hanyalah milik Allah semata.
Begitu juga Ilmu Kalam, perlu kita ketahui bahwa apa sebenarnya Ilmu Kalam itu ?
Harapan penulisan semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca semuanya khususnya buat penulis.

B.       Rumusan Masalah
Mengingat pentingnya pembelajaran ini maka kami dapat merumuskan dan menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian Ilmu Kalam ?
2.      Apa pengertian Ilmu Tasawuf ?
3.      Apa dasar Ilmu Kalam dan Tasawuf ?

BAB II
SEJARAH MUNCULNYA ILMU KALAM DAN TASAWUF
DAN DASAR-DASAR ILMU KALAM DAN TASAWUF


A.      Sejarah Munculnya Ilmu Kalam dan Tasawuf / Sufi
Pada zaman Rasulullah SAW Islam tidak mengenal aliran tasawuf, juga pada masa sahabat dan tabi’in. Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian ini shuf (pakaian dari bulu domba). Karena pakaian ini mereka mendapat gelar atau julukan sebagaimana mereka yaitu sufi. Dengan nama tarekatnya tasawuf. 
Adapun pengakuan tanpa adanya dalil yang menerangkan ataupun dari berita-berita dusta bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah juga golongan tasawuf. Maka hujah seperti ini, tidak dapat diterima oleh orang yang berakal sehat.  
Pentingnya diperhatikan bahwa istilah ini hampir tidak pernah ada digunakan pada 2 akad pertama hijrah. Jelasnya bahwa istilah sufi memang tidak ada pada zaman Rasulullah, para sahabat dan tabi’innya.
Namun pada akad ke-2 lah setelah kedatangan Islam (622 M) ada sebagian orang yang menyebut dirinya shufi. Yang berarti bahwa mereka mengikuti jalan pengecualiann hati dan watak dan prilaku mereka untuk mencapai maqam orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat dia. Sekalipun mereka tidak melihat Allah, tetapi Allah melihat mereka.  

B.       Pengertian Ilmu Kalam
Ilmu tauhid adalah suatu kaum yang membahas tentang wujud Allah SWT, sifat-sifat wajib yang tetap padanya, sifat-sifat yang boleh disifatkan padanya tentang sifat-sifat yang yang sama sekali wajib dilenyapkan dari padanya. Juga membahas tentang para Rasulullah mereka. Menyakinkan apa yang ada pada diri mereka dan apa yang dinisbahkan kepada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungakannya pada mereka. Ilmu tauhid juga disebut Ilmu Kalam.

C.      Pengertian Ilmu Tasawuf
Pada hakekatnya, selain air secara waghotan diatas, tasawuf itu dapat juga diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Selain itu dapat juga diartikan berpindah dari kehidupan bisa menjadi kehidupan shufi yang selalu tekun beribadah dan jernih, bersih jiwa dan hatinya, ikhlas karena Allah SWT semata-mata. 
Adapun makna dan ta’rif secara istilah ada beberapa pendapat tentang tasawuf diantarnya adalah :
1.      Syekh Junaidi Al-Baqhdad berkata
“Tasawuf ialah hendaknya keadaanmu berserta Allah tanpa adanya perantara”

2.      Syekh Ma’ruf Al-Karkhi :
“Tasawuf adalah berarti mencari hakekat dan meninggalkan dari segala sesuatu yang ada pada tangan makhluq”

3.      Dzun Nun Al-Mishri
“Shufi adalah orang yang tidak payah mencari dan tidak susah karena musnab milik.”
4.      Ibnu Kaldum
“Tasawuf itu adalah semacam ilmu syariat yang timbul kemudian di dalam agama, asalnya ialah bertekun beribadah dan memutuskan pertaliannya dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah semata, menolak hiasa-hiasan dunia serta mencari perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak kelezatan harta benda dan kemegahan dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam Khalwat dan Ibadah”

5.      Sahal Al-Tastury
Shufi adalah orang yang bersih dari kotoran-kotoran (kekeruhan) dan penuh pemikiran dan hanya memusatkan pada Allah semata-mata tanpa manusia, dan sama baginya harta benda dengan tanah liat.

6.      Bisyar Al-Hafi
“Seorang shufi ialah orang yang telah bersih hatinya semata-mata untuk Allah”.

7.    Bardar Bin Husin
“Shufi ialah orang yang telah memilih Al-Haq (Allah) semata-mata untuk dirinya “

8.      Abu Ali Ahmad Al-Huzbari
“Seorang Shufi (Ahli Tasawuf) ialah yang memakai kain shuf untuk membersihkan jiwanya, memberi makan hawanya dengan kepahitan meletakkan dunia di bawah tempat duduk dan berjalan (suluk) menurut contoh Rasul Musthofa”

9.   Prof.DR.H Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
“Tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya di mudah menuju kepada Tuhan”.

D.      Dasar-dasar Ilmu Kalam dan Tasawuf
Prof. DR.HAMKA dalam bukunya “perkembangan tasawuf dari abad ke abad menyimpulkan : “Bahwasanya tasawuf Islam telah tumbuh sejak tumbuhnya agama Islam itu sendiri. Bertumbuh dalam jiwa pendiri Islam itu, sendiri : Yaitu Nabi Muhammad SAW. 
Setelah memperhatikan permulaan tumbuhnya, jelaslah bahwa ilmu tasawuf tumbuh sendiri lantaran pengaruh membaca Al-Qur’an, memahami maksudnya membaca hadits, mencontoh kehidupan Nabi dan Para Sahabatnya, serta pengaruh tuntunan Agama Islam pada umumnya. Akan tetapi permulaan tumbuhnya sampai akhri abad kedua Hijriyah, tasawuf belum menjadi suatu ilmu yang tersusun / tersendiri dengan beberapa syarat dan tata cara tertentu.

BAB III
PENUTUP


A.      Kesimpulan
1.      Ilmu tauhid adalah suatu  kaum yang membahas tentang wujud Allah SWT, sifat-sifat wajib yang tetap padanya
2.      Secara waghotan diatas, tasawuf itu dapat juga diartikan mencari jalan untuk memperoleh kecintaan dan kesempurnaan rohani. Selain itu dapat juga diartikan berpindah dari kehidupan bisa menjadi kehidupan shufi yang selalu tekun beribadah dan jernih, bersih jiwa dan hatinya, ikhlas karena Allah SWT semata-mata.
3.      Yang Menjadi dasar Dario tasawuf adalah Al-Qur’an.
B.       Saran
Harapan kami sebagai penulis, semoga makalah yang kami buat ini bermanfaat bagi kita sebagai hamba Allah SWT. Sehingga kita benar-benar bersih dari penyakit dari. Dan kita benar-benar dekat dengan sang khaliq.
Kritik dan saran kami harapkan dari teman-teman pembaca. Tentunya kritik dan saran yang sifatnya membangun yang mana tujuannya untuk perbaikan makalah kami yang akan datang.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.rangerwhite.09 –Artikel-blogspot.com/2010/05 hubungan – ilmu - kalam dan tasawuf

MZ.Habib.2001. Memahami Ajaran Tasawuf. Surabaya : Bintang Usaha